Pergilah Kasih

Aku percaya pada Allah.
Aku yakin sejauh apapun kita terpisah sekarang, jika memang kebersamaan adalah milik kita, tak akan ada keraguan untuk melangkah.

Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu.
Selagi masih ada waktu.
Jangan hiraukan diriku.
Aku rela berpisah.
Demi untuk dirimu.
Semoga tercapai, segala keinginanmu.

Setiap kata di lagu itu yang meyakinkanku untuk mendukungmu merantau ke negeri seberang.

Jujur, aku rindu saat jamaah subuh bersamamu. Pergi ke masjid, melawan dingin yang kala itu begitu menusuk.

Disaat aku mulai menginjak aspal, dan cahaya masjid terlihat. Jika tak ku lihat ada tanda kehadiranmu, aku akan berbicara dalam hati, "ayo mas ke masjid, masa kalah sama dingin." dan tak lama kau pun datang seolah menjawab ucapan diamku.
Hehe. Sesederhana itu bahagiaku.
Dan kau terlihat kuat waktu itu, tapi sekarang aku merasakan getaran rapuh dari dirimu.

Aku tidak tau yang sesungguhnya.
Tapi saat aku melihatmu, mampu kurasakan sebuah kekosongan, kesedihan, keresahan, dan kerinduan yang siap menghujam dirimu.
Mungkin lebih pada rasa tidak rela, tapi kamu harus melangkah.
Baru dua tahun kamu tinggal disini, kembali pada rumahmu.
Tapi, mimpimu membuatmu harus meninggalkan masyarakat, santrimu, dan orang-orang yang kamu sayangi disini.

Mas, aku tidak bisa menjanjikan penantian dan keabadian dalam mencintaimu.
Aku hanyalah seorang hamba.
Pada Allah aku berharap jodoh terbaik, dan karena Allah pula aku memperbaiki dan memantaskan diri.

Doaku turut serta bersamamu, hingga entah kapan waktuku tak lagi untuk dirimu. Semoga kamu amanah pada ilmu yang sedang kau perjuangkan.
Ingin sekali aku berkata bahwa aku menyayangimu, mengucapkan untaian kata perpisahan, dan mendukungmu sepenuh hati.
Tapi, aku tidak bisa.

-dear, R-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Pojok Rasa Tertekan Anxiety Disorders

Calvin