Putri Kecil Ayah Telah Dewasa
Sungguh aku terharu malam ini,
Malam ini aku ada rapat di kampus sampe jam 8 malam, sedangkan jarak dari rumah ke kampus 1 jam.
Jalanan sudah mulai sunyi saat aku melintasi jalanan utama kota Yogyakarta. Tepat pukul 9 malam aku sampai di rumah dan langsung menuju pintu belakang. Aku berpikir semua orang sudah tidur dan aku juga berencana akan langsung tidur. Suara kunci pintu belakang yang terbuka mengagetkanku, ternyata ayah ku menungguku pulang dengan rasa khawatir yang teramat sangat. Beliau bernada lirih menjawab salam ku dan kemudian bertanya, "kok sampai jam segini to nduk??" Sembari memasukkan motor aku menjawab, "Rapat P2M pak, yang ke Gunung Kidul itu." Sungguh tak kusangka, tungku itu menyala dengan sepanci air di atasnya yang mulai hangat. Tadinya niat ku aku tidak ingin mandi, tapi ayah ku sudah menghangatkan air untuk aku mandi. Ayahku menyuruhku membuat mie, ya buat isi perut lah. Tak henti hentinya ayah mengingatkan aku untuk langsung tidur setelah mandi, saat aku makan ayah masih menemaniku di dapur. Aku tak jua terpejam untuk segera beristirahat, aku masih terharu akan kasih sayang ayah yang begitu tulus, yang disembunyikan dibalik wibawanya. Ayahku lebih peduli pada keadaan anak-anaknya, karena ayah belum bisa menganggap bahwa anak-anaknya ini telah mulai dewasa. Dalam benak ayah, seberapapun banyaknya umur kami, kami tetap anak-anak ayah yang selalu anak kecilnya. Berbeda dengan ibu, ibu sudah sangat percaya bahwa anak-anaknya ini telah bisa memilih jalan hidupnya sendiri dan bertanggung jawab.
Aku selalu jadi putri kecil ayah, itulah anggapan ayahku.. hingga saat aku tidak di rumah, ayah ku lebih hawatir dibanding ibukku..
Aku sayang ayah, aku sayang ibu, aku sayang semua keluargaku :)
ternyata bisa dibuka...hehehe......tak klik dari link email gak bisa tadi...
BalasHapuskamu orang pertama lho yang ngirim alamat blog..:)
semangat yaa nanti tak pantau..
Iya abang..
HapusDimohon pantauannya..
Masih sangat berantakan soalnya hehe
Maklum masih moody utk nulis hehe